Showing posts with label Chicken Soup for Your Soul. Show all posts
Showing posts with label Chicken Soup for Your Soul. Show all posts

Friday, March 13, 2009

Jangan NGAMBEK berkepanjangan terhadap orang yang kamu kasihi !!!

Kebetulan banget,....kmarin bebek nerima email dari LL, nyang pas banget dengan postingan bebek sebelumna.....

Ini adalah cerita sebenarnya ( diceritakan oleh Lu Di dan di edit oleh Lian Shu Xiang )

Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga.

Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi segalanya sudah terlambat.

Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah menghianati ikrar cinta yg telah kami buat

selama ini, setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama .

Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.

Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya.Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata: "Mari,kita jemput nenek di kampung".

Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana.

Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan ke dalam kantongnya.

Kalau terjadi selisih paham di antara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi di atas kepalanya dan diputar-putar sampai aku

berteriak ketakutan baru diturunkan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah.

Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami: "Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan? "Aku menjelaskannya kepada nenek: "Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira. "Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa: "Ibu, ini kebiasaan orang kota , lambat laun ibu akan terbiasa juga."

Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga

itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengkan kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan, dia selalu tanya itu berapa harganya, ini berapa. Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras. Suamiku memencet hidungku sambil berkata: "Putriku, kan kamu bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.

Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri,di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.

Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi di saat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di dapur,tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya: dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong

plastik, di mana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur. Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menangis. Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah. "Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata: "Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu bisa membuatmu mati?"

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana mejadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada

siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata di mana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?

Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan di luar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata: "Lu di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata: "Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi." Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar

semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri di depan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, di luar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!.

Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh..suamiku segera mengejarnya keluar rumah.

Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.

Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata: "Lu Di, sebaiknya kamu periksa ke dokter." Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi

rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Di dalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi,memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan

sedihnya. Tengah malam, aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya. Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung. "Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam hati: "Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"

Sampai selesai upacara pemakaman,suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan

kebencian. Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika............ di matanya, akulah penyebab kematian nenek.

Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat. Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.

Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita di dalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi.Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jangtungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian. Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku di hadapan mereka.

Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi........., semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri,pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

"Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk didepan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas di atas meja,tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata

kepadanya: "Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya". Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar. Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menandatangani surat itu dan menyodorkan kepadanya. "Lu di,kamu hamil?" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar dengan derasnya. Aku menjawab:"Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi". Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali."

Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata: "Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak

bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Cinta di antara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.

Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia

lupa........, itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?

Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang

perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang

jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?

Sampai di pintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tanganya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.

Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya...aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara....Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami. "Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Di dalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah.

"Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai".

Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD ,SMP,SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap di dalamnya. Dia juga menulis sebuah surat untukku. "Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya""."

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya di atas dadanya sambil berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya". Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum..............anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tanganya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata....................

Teman2 terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian sedang

jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah pesan dari cerita ini: "Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati di antara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan di dalam hati. Siapa tau apa yg akan terjadi besok?

Ada sebuah pertanyaan:Jika kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.

Thursday, March 12, 2009

Pelajaran Terakhir Yang Diberikan Tante Erna

untung ini blog blum jamuran ditinggal kelamaan yah,...
well, well....kemana ajah siy bek????

hari senin kemarin, salah seorang temen bebek ditinggal pergi mami tercinta,...
jadilah bebek ikutan
sok sebuk
3 hari kemarin,....
yayang dan bebek cukup dekat dengan Tante Erna,...dan secara khusus, banyak hal yang diberikan Tante Erna untuk bebek.
sekarang Tante Erna sudah beristirahat dengan tenang di rumah Bapa,....
dan salah satu hal yang menyentuh dan mengingatkan bebek kembali adalah
betapa bebek takut kehilangan yayang.

iya,... kebayang gag sih, kalau pasangan kita harus kembali ke sorga?
makanya begitu melihat si oom menangis, maka bebek pun gag kuasa untuk ikut menangis...sedihhhh sekali rasanya....padahal bebek tahu ini adalah yang terbaik.

selesai acara kremasi, bebek pun menyempatkan diri untuk ngomong ke yayang,
kalau bebek tuh sayang sekali ma dia.....

dan ternyata, bukan cuma bebek nyang seperti ini....beberapa teman pun ngomong hal nyang sama.....
yah kita manusia, seringkali take for granted pasangan kita.

kesalahan kecil yang dibuat pasangan, kadang membuat kita marah dan marah berkepanjangan.
dalam pikiran kita, hanya kita nyang benar....

tapi cuba deh bayangkan kalau dia, orang nyang kita kasihi, belahan jiwa kita,.....diambil dari sisi kita
bagaimana perasaan kita???? gag bisa dibayangkan!!!!

bersyukur sekali bebek, kalau melalui kepergian Tante Erna ini,
bebek kembali diingatkan untuk lebih lagi menyayangi yayang...

Wednesday, January 21, 2009

"Forgive and Forget"

Kata-kata ini sering kita dengar keluar dari mulut orang-orang “bijaksana” yang berusaha untuk menenangkan hati orang yang sedang “terbakar” dendam. Mudah untuk “mengatakannya” tetapi sangat sulit untuk “melakukannya”. Seperti orang yang belajar di sekolah, sangatlah mudah untuk membaca buku-buku pelajaran tetapi tidak mudah untuk mengingat apa yang sudah dibaca waktu ujian datang.

Hari Sabtu minggu yang lalu, aku dan Lita biasa pergi ke gereja untuk ikut persekutuan keluarga muda. Buat yang sudah mengikuti blog kita dari doeloe pasti tahu apa sih persekutuan keluarga muda ini. Kali ini kita membahas masalah “Pernak Pernik Keluarga”. Maksudnya kita membahas segala macam urusan yang menyangkut keluarga misalnya, pengaturan keuangan, mendidik anak dan masih banyak lagi deh….
Ada satu topik yang kebetulan kebagian dibahas oleh kelompokku yaitu bagaimana kita memaafkan pasangan atau keluarga dekat yang sudah melakukan kesalahan “besar” terhadap kita. Masing-masing orang punya tips nya sendiri dan setelah dirangkum ini lah beberapa cara untuk mengatasinya.
1. Berusaha untuk mengerti latar belakang masing-masing dengan begitu kita bisa memaklumi bila terjadi salah paham.
2. Berpikir positif selalu, ingat-ingat waktu pasangan atau sanak keluarga berbuat baik kepada kita jangan ingat kesalahannya saja.
3. Berikan kasih kepada mereka, karena kasih tidak perlu balasan.
4. Doakan selalu supaya “dia” dan “saya” bisa menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Ini hasil dari bahasan kita tentang “Forgive and Forget”. Kita semua setuju kalau hasil rangkuman di atas bisa “memudahkan” kita untuk memaafkan kesalahan orang lain terhadap kita. Kalau “pembaca” setuju dengan yang di atas, mari kita mulai “belajar memaafkan” dan “belajar melupakan” kesalahan yang orang lain perbuat terhadap kita. Dengan begitu hidup ini jadi lebih “indah” dan kita jadi lebih “produktif” yah…… Setuju nggak seeeehhhhhh………..

Monday, April 21, 2008

In His Hands

hari sabtu siang minggu kemarin, yayang dan bebek kebetulan diundang syukuran satu senior gereja kami.

syukuran ini dalam rangka ultah sang istri ke 55 tahun,.....gelar profesor nyang diterima suami, kepulangan si sulung, dan juga hasil memuaskan nyang didapat si bungsu.

saat diminta untuk sharing semua berkat nyang diterima,...kepala keluarga bercerita...
di masa muda dia harus bekerja keras memanggul karung-karung dedak, sampai-sampai dia tidak lulus SMA....dalam bayanganna, tidak ada harapan untuk menyelesaikan sekolah,...SMA saja tidak lulus....

beliau terus berusaha,....sampai akhirna bisa kuliah di bidang fisika,....harus tidur di kampus karena tidak ada tempat tinggal dan sebagaina.....
tapi Tuhan sayang kepada beliau,....semua bisa dilalui,....dan beliau bisa bekerja....

satu kali beliau naik pesawat, kelas satu,...duduk bersebelahan dengan mantan bos na,...sampai membuat si mantan bos terheran-heran,.....

sungguh tidak terbayangkan kalau saat ini beliau punya 4 gelar,....
berkedudukan sebagai presiden direktur satu perusahaan besar,....
semua cuma karena keyakinannya, kalau hidup ada dalam genggaman tangan Tuhan.....

hffff, mirip banget ma perjalanan idup yayang,....sekali lagi bebek kembali diingatkan,...kalau hidup bebek juga berada dalam genggaman tangan nyang sama,....

Thursday, March 06, 2008

"Pit Stop"

Sempet baca tulisan ini beberapa hari yang lalu dan bikin aku "sadar" kalau hidup ini nggak melulu kerja...kerja...kerja dan kerja. Ada kalanya kita mesti "istirahat" berhenti dari kegiatan kita sehari-hari dan kemudian mulai lagi dengan "semangat" baru. Mangkanya disarankan untuk "cuti" yah "berlibur" kaya kita neh....he...he...he.... Sekedar info minggu depan kita mau liburan lagi ke "Mersing" Malaysia........ trus bulan depan ke Phuket Thailand......kebanyakan nggak seeehhhhh liburannya.....

Michael Schumacher juara dunia Formula One (F1) tujuh kali. Ia mampu memacu mobil balapnya dengan kecepatan di atas 300 km/jam, menyelesaikan puluhan lap dalam waktu spektakuler. Ada satu hal yang selalu ia lakukan saat berlomba, yaitu melakukan pit stop. Di pit stop itu, ia berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar, mengganti ban yang aus, dan memeriksa peralatan mobilnya. Sesaat kemudian ia pun melanjutkan lomba.

Sejarah mencatat, dalam F1 strategi pit stop tidak jarang menjadi penentu. Perhentian sesaat di pit stop itu bisa mengantar seorang pembalap meraih kemenangan. Mirip dengan kehidupan kita. Setiap hari kita menjalani berbagai aktifitas dan kerap terjebak dalam rutinitas. Tujuh hari dalam seminggu kita memacu diri kita dengan berbagai kesibukan pekerjaan, ditambah pelayanan. Saking sibuknya sampai kerap kita lupa hal yang tidak kalah penting, yaitu “berhenti” sejenak.

Ada saat dimana kita harus sejenak berhenti. Mengambil jeda dari kebisingan hidup. Sejenak menarik diri dari hiruk pikuk rutinitas. Mengistirahatkan bukan hanya tubuh, tapi juga pikiran. Saat dimana kita memeriksa dan mengasah diri. Ibarat me-recharge baterai kehidupan kita. Untuk kemudian bersiap melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi.

"Tanpa aktifitas kita bisa tumpul, tetapi tanpa libur kita bisa aus".

Monday, February 18, 2008

Mengapa Saya?

Pendeta kami, Ayub Yahya menulis satu artikel sbb :

Arthur Ashe, petenis berkulit hitam asal Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975). Tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi by pass. Setelah dua kali operasi, bukannnya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi virus HIV melalui transfusi darah.

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya, “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?” Ashe menjawab, “Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5.000 mencapai turnamen grand slam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, empat orang di semi final, dua orang berlaga di final. Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, “Mengapa Saya?” Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, sudah seharusnya saya pun tidak bertanya kepada Tuhan, “Mengapa Saya?”

Sadar atau tidak, kerap kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; keberhasilan, karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan – kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan. Ashe, seperti juga Ayub dalam bacaan kita, tidak demikian. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup menekan berat. (AYA).

Ketika menerima sesuatu yang buruk,
ingatlah saat-saat ketika kita menerima yang baik.

Friday, January 25, 2008

Don't give up.....

One day I decided to quit...
I quit my job, my relationship, my spirituality. .. I wanted to quit my life.
I went to the woods to have one last talk with God.
'God', I asked, 'Can you give me one good reason not to quit?'
His answer surprised me...
'Look around', He said. 'Do you see the fern and the bamboo?'
'Yes', I replied.
'When I planted the fern and the bamboo seeds, I took very good care of them.
I gave them light.
I gave them water.
The fern quickly grew from the earth.
Its brilliant green covered the floor.
Yet nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo.
In the second year the Fern grew more vibrant and plentiful.
And again, nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo. He said.
'In year three there was still nothing from the bamboo seed.
But I would not quit.
In year four, again, there was nothing from the bamboo seed. I would
not quit.' He said.
'Then in the fifth year a tiny sprout emerged from the earth. Compared
to the fern it was seemingly small and insignificant. .....But just 6
months later the bamboo rose to over 100 feet tall.
It had spent the five years growing roots. Those roots made it strong and gave it what it needed to survive.
I would not give any of my creations a challenge it could not handle.'
He asked me. 'Did you know, my child, that all this time you have been struggling, you have actually been growing roots'.
'I would not quit on the bamboo.
I will never quit on you.'
'Don't compare yourself to others.'
He said.
'The bamboo had a different Purpose than the fern.
Yet they both make the forest beautiful.'
'Your time will come', God said to me.
'You will rise high'
'How high should I rise?'
I asked.
'How high will the bamboo rise?' He asked in return.
'As high as it can?' I questioned.
'Yes.' He said, 'Give me glory by rising as high as you can.'
I left the forest and brought back this story.
I hope these words can help you see that God will never give up on you.
Never, Never, Never Give up.
For the Christian Prayer is not an option but an opportunity.
Don't tell the Lord how big the problem is,
tell the problem how Great the Lord is!
Heavens door open this morning, God asked me...
'My CHILD, what can I do for you?'
And I said, 'FATHER, please protect and bless the one reading this message.'
God smiled and answered, 'Request granted.'

Friday, January 18, 2008

Bocah Pembeli Es Krim

Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun berjalan menuju ke sebuah gerai tempat penjual eskrim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana hingar bingar mal yang serba wangi dan indah.

"Mbak sundae cream harganya berapa?" si bocah bertanya.

"Lima ribu rupiah," yang ditanya menjawab.

Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung recehan di tangannya dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih "berduit" ngantre di belakang pembeli ingusan itu.

"Kalau plain cream berapa?"

Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, "Tiga ribu lima ratus".

Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, " Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak," kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.

Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi.
Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.

Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi: Setiap manusia di dunia ini adalah penting. Di mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan dengan penuh hormat.

Tuesday, January 15, 2008

Yang Mahal Lebih Baik??

Wine,

Tadi pagi waktu buka email, ada temen yang kirim satu artikel tentang “wine” yang judulnya “Wine we know, gets better with age-but now it appears it tastes better the more it costs”. Interesting kan……

Wine yang biasa kita minum dalam banyak perayaan seperti : Natal, Tahun baru, Ulang tahun atau apa saja rasanya akan tambah enak kalau “umur” nya semakin “tua” (betul nggak sihh…). Tetapi sebuah riset di California Institute of Technology mendapatkan bukti kalau rasa wine yang diminum seseorang bisa jadi “enak” kalau orang tersebut diberitahu kalau harga wine yang dia minum itu “mahal”.

Dua puluh satu “volunteers” diminta untuk minum dari beberapa botol wine yang tidak ada labelnya (sebenarnya wine itu diambil dari satu botol yang sama dengan merk Carbernet Sauvignon harganya sekitar 46 poundsterling) dan menilai botol mana yang “rasa” nya paling enak menurut mereka. Informasi yang mereka tahu cuma harga dari wine tersebut mulai dari 5 poundsterling – 46 pondsterling. Sebagian besar mengatakan wine dengan harga yang lebih “mahal” rasanya lebih enak dari yang lebih “murah”……..????? Aneh kan … padahal semuanya wine yang sama……

Menurut Antonio Rangel (pemimpin riset), “otak” dari para volunteers di “scan” saat mereka meminum dan memberikan jawaban untuk memonitor “the neural activity in the medial orbitofrontal cortex” area otak yang menentukan “decision making” dan “pleasure” dalam hal “rasa”. Kebanyakan dari otak para volunteers memberikan reaksi positif saat meminum wine dengan label harga yang lebih “mahal”. Antonio menambahkan, “Expectation can effect the actual econding of pleasantness of the experience”.

Kalau dipikir-pikir betul juga sih, kebanyakan orang nggak peduli apa itu wine, makanan, pakaian, perhiasan atau apa saja kalau harganya mahal pasti orang yang minum, makan atau memakainya merasa lebih “nyaman” dari pada yang “murahan”. Aku belajar sesuatu yang berharga hari ini, mudah-mudahan temen-temen pembaca juga yah…….. “Nggak selamanya yang “mahal” itu “enak”, kadang yang “murah” juga bisa lebih “enak” tergantung bagaimana cara kita “menilai” nya”. Kuncinya ……. Bersyukur selalu……betul nggak………pasti betul deh….he…he…he……

Saturday, October 20, 2007

Sekolah Hidup Susah

gak kerasa udah hampir setahun yayang dan bebek belum menginjak endonesah tanah tumpah darah tercintah.
untungna jaman udah brubah,....sekarang udah jaman inet,...jadi semua kabar di endonesah bisa sedikit banyak kami ikuti, walau tidak semuana,....dan kadang tulisan di media tidak sesuai dengan kenyataan nyang adah,...maklum lah,.. namana juga endonesah,... :)

ini ada satu artikel menarik : Sekolah Hidup Susah
hm,... kalau baca artikel ini, bebek jadi inget yayang,... nyang dibentuk dari latar belakang 'susah',... makana dia bisa seperti sekarang ini.

cerita detilna nanti ajah yah,...kalo bebek gak lupa,... ;)

Thursday, September 27, 2007

"Segala Sesuatu Yang Berputar Selalu Berputar"

Bryan hampir saja tidak melihat wanita tua yang berdiri dipinggir jalan itu, tetapi dalam cahaya berkabut ia dapat melihat bahwa wanita tua itu membutuhkan pertolongan. Lalu ia menghentikan mobil Pontiac tuanya di depan mobil Mecedes wanita tua itu, lalu ia keluar dan menghampirinya. Walaupun dengan wajah tersenyum wanita itu tetap merasa khawatir, karena setelah menunggu beberapa jam tidak ada seorang pun yang berhenti untuk menolongnya. Apakah lelaki itu bermaksud menyakitinya?

Lelaki tersebut penampilanya tidak terlalu baik, ia kelihatan begitu memprihatinkan. Wanita itu dapat merasakan kalau dirinya begitu ketakutan, berdiri sendirian dalam cuaca yang begitu dingin, sepertinya lelaki tersebut tahu apa yang ia pikirkan. Lelaki itu berkata Saya kemari untuk membantu anda Bu, kenapa anda tidak menunggu didalam mobil. Bukankah disana lebih hangat? Oh ya, nama saya Bryan. Bryan masuk kedalam kolong mobil wanita itu untuk memperbaiki yang rusak. Akhirnya ia selesai, tetapi dia kelihatan begitu kotor dan lelah, wanita itu membuka kaca jendela mobilnya dan berbicara kepadanya. Ia berkata bahwa ia dari St Louis dan kebetulan lewat jalan ini. Dia merasa tidak cukup kalau hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Wanita itu bertanya berapa yang harus ia bayar, berapapun jumlah yang ia minta tidak menjadi masalah, karena ia membayangkan apa yang akan terjadi jika lelaki itu tidak menolongnya. Bryan hanya tersenyum. Bryan tidak mengatakan berapa jumlah yang harus dibayar, karena baginya menolong orang bukanlah suatu pekerjaan. Ia yakin apabila menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan tanpa suatu imbalan, suatu hari nanti Tuhan pasti akan membalas amal perbuatanya. Ia berkata kepada wanita itu, "Bila Ibu benar-benar ingin membalas jasa saya, maka apabila suatu hari nanti Ibu melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan, tolonglah orang tersebut... dan ingatlah saya." Bryan menunggu sampai wanita itu menstater mobilnya dan menghilang dari pandangan.

Setelah berjalan beberapa mil wanita itu melihat kafe kecil, lalu ia mampir kesana untuk makan dan beristirahat sebentar. Pelayan datang dan memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Wanita itu memperhatikan sang pelayan yang sedang hamil, dan masih begitu muda. Lalu ia teringat kepada Bryan. Setelah wanita itu selesai makan dan, sang pelayan sedang mengambil kembalian untuknya, wanita itu pergi keluar secara diam-diam. Setelah kepergiannya sang pelayan kembali, pelayan itu bingung kemana wanita itu pergi, lalu ia menemukan secarik kertas diatas meja dan uang $1.000,-. Ia begitu terharu setelah membaca apa yang ditulis oleh wanita itu: "Kamu tidak berhutang apapun pada saya karena seseorang telah menolong saya, oleh karena itulah saya menolong kamu. Maka inilah yang harus kamu lakukan: "Jangan pernah berhenti untuk memberikan cinta dan kasih sayang."

Malam ketika ia pulang dan pergi tidur, ia berfikir mengenai uang dan apa yang di tulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita itu bisa tahu kalau ia dan suaminya sangat membutuhkan uang untuk menanti kelahiran
bayinya? Ia tau bagaimana suaminya sangat merisaukan hal ini. Lalu ia memeluk suaminya yang terbaring disebelahnya dan memberikan ciuman yang lembut sambil berbisik : "Semuanya akan baik-baik saja sayang, I Love You Bryan."

"Segala sesuatu yang berputar akan selalu berputar", therefore, never ever stop doing good things in life!

Thursday, September 13, 2007

Hitung Berkatmu!!

"I hate this job! I hate this job ? "

Nggak tahu deh, udah berapa kali kalimat ini terus menerus aku ulang-ulang dalam hati. Rasanya kekesalan demi kekesalan semakin bertumpuk dalam hati. Dan yang lebih ngeselin lagi. Semakin aku kesal, semakin semua pekerjaan ini terasa berat.
Benciiii!!!! ! Benciiii!!!! Apalagi yang harus dikatakan supaya bisa lebih lega. Ternyata apapun yang aku katakan bukannya bikin lega, tapi malah bikin sumpek. Gimana nggak ??? Hari pertama masuk kantor, nggak ada yang tersenyum, nggak ada yang menyapa apalagi ngajak ngobrol (dan ternyata setelah beberapa hari! kerja, aku baru tahu kalau katanya ada juklak yang mengatur bahwa karyawan dilarang ngobrol waktu jam kerja, ajaib!!), semua berwajah serius.

Satu-satunya yang melegakan hati hanya seorang teman baru yang sama-sama
baru diterima di kantor. Oke deh, lupakan hari pertama. Dimana-mana juga biasanya orang kalo hari pertama kerja memang unforgettable. Waktu itu aku cuma berharap semoga esoknya nggak akan seburuk itu. But ? ternyata tidak!
"Christy, buat laporan ini ? laporan itu. Semua harus selesai dalam 1 x 24 jam! Ingat ya, setiap tugas dari saya, apapun itu harus selesai dalam 1 x 24 jam !!" "Christy! Kalau telponnya bunyi, jangan sampai kring lebih dari dua kali! Harus sudah kamu angkat!"

Fiuhh ? galak amat. Memang sih ngomongnya sambil senyum (hambar), tapi dalem boo? "Wah, saya nggak tahu data itu ada dimana. Tanya aja sama yang lain". "Lho, itu kan yang tahu orang cabang Balikpapan atau Banjarmasin. Kejar aja kesana".
Gile benerrr. Untuk minta data aja susahnya minta ampun. Gimana bisa bikin laporan. Aku bener-bener nggak ngerti kenapa suasana kantor bisa seperti ini. Orang-orangnya susah diajak kerja sama, self defense tinggi, gampang saling menyalahkan, wah bener-bener lingkungan kerja yang tidak nyaman. Iniyang salah apanya ya ? SDM-nya kah? Management-nya kah? Lingkungannya? Jenis pekerjaannya & bsp; kah? Atau apanya?

Kayaknya semakin hari bukannya semakin baik, tapi malah semakin buruk. Tiap hari ada saja hal-hal 'mengagumkan' yang kutemukan. Pulang jam setengah enam merupakan hal 'aneh' (padahal jam kerja hanya sampai jam 5), katanya ada perhitungan lembur, tapi kalau hanya sampai jam setengah delapan istilahnya itu kan masih sore, masak mau ngurus surat lembur. Sabtu Minggu katanya libur, tapi kebanyakan dipakai untuk lembur. Uang lembur nggak jelas kapan keluarnya, katanya sih sekitar 3-4 bulan kemudian. Satu hal yang paling nggak 'sreg' di hatiku, setiap kali meeting pasti memakan waktu lama. Dan lamanya itu bukan untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada, tapi selalu mencari 'siapa yang salah'. Pokoknya, pada saat meeting, jangan sampai kita salah menyebut nama orang lain. Siapapun itu pasti langsung dipanggil menghadap saat itu juga. Jadi, sering kali waktu terbuang percuma hanya untuk mendengarkan pembelaan diri dan ucapan-ucapan yang saling menyalahkan,
dan ujung-ujungnya ? tidak ada solusi. Jadi kebayang, seandainya waktu itu ada yang minta aku untuk buat list 'Ten things you hate about your company' mungkin aku bisa bikin sampai 100.

Pokoknya the point is : I hate this job! Wake up girl ? ! You pray for this job, remember!!
Iya sih. Memang betul. Tapi keadaan ini bener-bener bikin aku tertekan. Aku ingat komitmen-ku pada Tuhan. Apapun itu Tuhan, bagaimanapun kehidupan yang harus kujalani, selama itu membuat aku semakin dekat denganMu, aku akan menjalaninya dengan sukacita. Tapi kalau seperti ini? Setiap pulang, sampai rumah aku sudah 'terlalu capek' untuk berdoa dan membaca firman. Saat teduhku jadi super bolong bolong. Kalau di rumah, bawaannya marah melulu. Kenapa rasanya nggak ada yang ngerti.

"There's gotta be something more than this".
Kalimat ini terus terngiang-ngiang di telingaku. Masak sih, aku harus hidup kayak gini terus. Tuhan, kenapa sih Engkau menempatkan aku di tempat seperti ini? Pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang pendidikanku, suasana kerja yang nggak enak, tempat kerja yang jauh, waktu kerja yang nggak jelas. Aduhhh ? kenapa Tuhan ? Rasanya setiap hari yang ada hanya keluhan. Di tengah-tengah kejenuhan yang sudah memuncak, satu hari Tuhan menegurku dengan suatu nyanyian yang sudah 'terlalu sering' dinyanyikan sehingga kadang-kadang kita lupa 'mendengarkan' dengan sungguh-sungguh.

Hitung berkat satu per satu
Kau kan kagum oleh kasihNya
Berkat Tuhan mari hitunglah
Kau niscaya kagum oleh kasihNya

Aku tersentak.
Memang benar, there's gotta be something more than this. Hidup nggak boleh begini terus. Tapi hidup nggak akan berubah kalau aku sendiri nggak merubah cara pandangku.
So, aku mulai menghitung berkatku.
Hari pertama kerja.
Seorang satpam menyapa ramah, "Hari ini udah mulai masuk ya mbak". Seorang office boy tersenyum, "Wah, mbak iki ayu rek .." Aku mendapatkan seorang sahabat baru, bisa berbagi suka duka dan saling menguatkan. Di antara Operational Director dan Deputy Director yang menjadi atasan langsungku, walaupun yang satu galak dan tidak pernah puas, tapi yang satu ramah dan baik dan selalu memberikan penghargaan untuk setiap
pekerjaan yang berhasil aku selesaikan dengan baik. Dan aku terus menghitung, setiap senyuman adalah berkat, setiap pujian adalah sukacita, setiap tugas dan pekerjaan adalah kepercayaan.

I have to change.
Setiap pagi aku tersenyum pada setiap orang yang kutemui. Kuucapkan selamat pagi dengan senyuman (walaupun sering kali tidak ada balasan), setidaknya seorang sahabat pasti selalu membalas. Dan, hei? rasanya banyak yang berubah. Memang benar bahwa hidup ini merupakan suatu chain reaction. Dan di tengah-tengah suasana kerja yang kurang nyaman itu mulai tumbuh bunga-bunga persahabatan. Memang kita tak dapat merubah seluruh dunia hanya dalam sekejap. Tapi setiap perubahan ke arah yang lebih baik adalah berkat. Rekan-rekan kerja mulai lebih terbuka dan saling membantu dalam
pekerjaan. Syukur atas talenta yang diberikan Tuhan, aku memang punya sedikit kemampuan lebih di bidang komputer sehingga banyak rekan-rekan yang sering bertanya. Dari saling membantu itulah akhirnya suasana kerja yang kaku mulai cair.

Dan betapa bahagianya ketika suatu hari kemudian Tuhan menyapaku lembut,"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga"(Matius 5:16)

Namun tak bisa dipungkiri, sistem perusahaan yang begitu menekan tetap mendorongku untuk berusaha mencari pekerjaan lain. Hanya dalam waktu 3 bulan, tiba-tiba aku mendapat panggilan dari perusahaan lain, dan hanya dengan satu kali test, mereka memutuskan untuk menerima aku. Sungguh-sungguh suatu berkat yang tak terduga. Apalagi di kantor baru tersebut aku ditempatkan di bagian IT Support & Multimedia, yang memang lebih sesuai dengan bidang pendidikanku.

Ketika aku mengajukan pengunduran diri, salah satu bosku yang sudah merasa cocok denganku berusaha mempertahanku. Namun dengan tekad yang sudah bulat aku memutuskan untuk tetap memilih perusahaan baru walaupun perusahaan tersebut jauh lebih kecil daripada perusahaan tempat aku bekerja saat itu. Dan untuk menunjukkan niat baikku, selama dua minggu terakhir, aku berusaha menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku. Lembur tanpa mengurus surat lembur. Aku ingin melakukan yang terbaik. Yang terbaik yang dapat aku berikan.

Sampai tibalah hari terakhir aku bekerja, aku mendapat informasi bahwa Berita Acara Serah Terima pekerjaanku belum ditandatangani oleh sang Direktur dan beberapa teman menjelaskan bahwa biasanya berkas tersebut baru ditandatangani 2/4 minggu kemudian, dan setelah itu baru aku bisa menerima ijazah dan gajiku. Ada perasaan marah ketika menyadari bahwa ternyata semua kerja kerasku tidak berarti apa-apa. Tapi Tuhan memang baik sekali. Dia tidak memperbolehkan kemarahanku merusak pekerjaan terbaik yang telah kupersembahkan. Aku telah melakukan yang terbaik karena Tuhan sendiri yang telah memampukanku, jadi kalaupun ternyata ada beberapa orang yang tak dapat menghargainya, kenapa aku harus berkecil hati? Aku melakukannya karena Tuhan,bersama Tuhan dan untuk Tuhan. Dan untuk itu Ia telah menyediakan hadiah yang jauh lebih indah. Berkat-berkat yang menyirami hati. Di hari terakhir itu:

Seorang sahabat memelukku. Seorang rekan kerja memutar lagu kesayanganku sepanjang hari. Seorang lagi membuat sketsa wajahku. Aku menerima banyak ucapan terima kasih dari rekan-rekan kerja bahkan dari departemen lain. Dan seorang office boy menangis menyalamiku sambil berkata, "Mbak, terima kasih ya karena selalu tersenyum kalau ketemu saya ?" Dan ketika seorang ibu deputy director dari departemen lain (yang
sehari-harinya terkenal judes, but somehow aku yakin hatinya penuh kasih) memeluk dan menciumku sambil mengucapkan doa dan berkat buatku, dalam hatiku aku memperbaharui kembali janjiku pada Yesus.

Bapa, dimanapun aku, Kau tempatkan, apapun pekerjaanku, selama itu membuatku lebih dekat denganMu dan menyenangkan hatiMu, aku akan melakukannya dengan segenap hatiku dan dengan segenap kemampuanku, sebagai persembahanku untukMu. Memang kita tidak dapat merubah segalanya. Tapi jika kita menyadari bahwa setiap tanggung jawab yang diletakkan di tangan kita adalah suatu pekerjaan buat Tuhan, maka sudah sepantasnyalah kita melakukan yang terbaik.

So guys, kalau saat! ini kamu merasa :
Pekerjaanmu tidak terlalu berarti?
Lingkungan kerjamu benar-benar tidak nyaman?
Perusahaan berlaku tidak adil padamu?
Rekan-rekan kerjamu saling menjatuhkan?
Kerja kerasmu sia-sia ?

Jangan pernah berkecil hati. Selama engkau sungguh-sungguh menyadari bahwa engkau telah memberikan yang terbaik, engkau telah berlaku jujur dan setia dalam pekerjaanmu, ingatlah, Bapamu di surga selalu memperhatikan engkau. Dan Ia tersenyum padamu.

Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.(I Korintus 15:58).

Karena itu, marilah kita mulai pekerjaan kita hari ini dengan senyuman dan sukacita di hati, sehingga di akhir hari kita dapat menjawab pertanyaan seperti yang tertuang dalam sebuah kidung, "Sudahkah yang terbaik kuberikan kepada Yesus Tuhanku ?"

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3 : 23).

~ My life is a living proof of God¢s love ~

No one has a perfect childhood.
But there will be one moment in your life
when God enters your life and touches you
and makes you a better person.

Monday, September 10, 2007

Satu Sore di Singapore River

Hari Sabtu kemarin, yayang dan bebek seperti biasa nganter nyokab tusuk sate,...ckakakak, maksude tusuk jarum gitu lohhhh

dari pada mesti nunggu sejam,...ntar bulukan,....finally kita pergi nongkrong ke singapore river,....tepatna di clarke quay.

lagi asyik-asyikna kita minum di salah satu kafe,....datang segerombolan anak muda....
mereka menuntun nenek, kakek sepuh,....mendorong orang lumpuh,...membimbing beberapa orang-orang yang terbelakang....

hm,.....seneng banget rasana melihat pemandangan ini,...
bebek dan yayang kemudian diskusi kecil,...
semoga anak kami nanti bisa mempunyai kepekaan sosial,...
kalau dia berulang tahun,....akan kami ajak untuk merayakannya bersama mereka yang less fortunate,....
hfff, semoga

Friday, September 07, 2007

57 Sen - Oleh: Ombowstring

Beberapa saat yang lalu bebek sempat mendengar kisah di bawah saat khotbah di gereja,...amat sangat berkesan, sampai mata bebek berkaca-kaca, dan sempat membicarakannya dengan yayang.

kemarin, sorang teman kembali memforward kisah ini via e-mail, dan bebek ingin membagikannya untuk kalian,....:

Seorang anak gadis kecil sedang berdiri terisak didekat pintu masuk sebuah gereja yang tidak terlalu besar, ia baru saja tidak diperkenankan masuk ke gereja tersebut karena "sudah terlalu penuh".

Seorang pastur lewat didekatnya dan menanyakan kenapa si gadis kecil itu menangis?

"Saya tidak dapat ke Sekolah Minggu" kata si gadis kecil.

Melihat penampilan gadis kecil itu yang acak-acakan dan tidak terurus, sang pastur segera mengerti dan bisa menduga sebabnya si gadis kecil tadi tidak disambut masuk ke Sekolah Minggu. Segera dituntunnya si gadis kecil itu masuk ke ruangan Sekolah Minggu di dalam gereja dan ia mencarikan tempat duduk yang masih kosong untuk si gadis kecil.

Sang gadis kecil ini begitu mendalam tergugah perasaannya, sehingga pada waktu sebelum tidur dimalam itu, ia sempat memikirkan anak-anak lain yang senasib dengan dirinya yang seolah-olah tidak mempunyai tempat untuk memuliakan Jesus.

Ketika ia menceritakan hal ini kepada orang tuanya, yang kebetulan merupakan orang tak berpunya, sang ibu menghiburnya bahwa si gadis masih beruntung mendapatkan pertolongan dari seorang pastur. Sejak saat itu, si gadis kecil berkawan dengan sang pastur.

Dua tahun kemudian, si gadis kecil meninggal di tempat tinggalnya didaerah kumuh,dan sang orang tuanya meminta bantuan dari si pastur yang baik hati untuk prosesi pemakaman yang sangat sangat sederhana. Saat pemakaman selesai dan ruang tidur si gadis di rapihkan, sebuah dompet usang, kumal dan sobek sobek ditemukan, tampak sekali bahwa dompet itu adalah dompet yang mungkin ditemukan oleh si gadis kecil dari tempat sampah. Didalamnya ditemukan uang receh sejumlah 57 sen dan secarik kertas bertuliskan tangan, yang jelas kelihatan ditulis oleh seorang anak kecil yang isinya:

"Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak anak anak bisa menghadiri ke Sekolah Minggu"

Rupanya selama 2 tahun, sejak ia tidak dapat masuk ke gereja itu, si gadis kecil ini mengumpulkan dan menabungkan uangnya sampai terkumpul sejumlah 57 sen untuk maksud yang sangat mulia.

Ketika sang pastur membaca catatan kecil ini, matanya sembab dan ia sadar apa yang harus diperbuatnya. Dengan berbekal dompet tua dan catatan kecil ini, sang pastur segera memotivasi para pengurus dan jemaat gerejanya untuk meneruskan maksud mulia si gadis kecil ini untuk memperbesar bangunan gereja.

Namun Ceritanya tidak berakhir sampai disini. Suatu perusahaan koran yang besar mengetahui berita ini dan mempublikasikannya terus menerus. Sampai akhirnya seorang Pengembang membaca berita ini dan ia segera menawarkan suatu lokasi yang berada didekat gereja kecil itu dengan harga 57 sen, setelah para pengurus gereja menyatakan bahwa mereka tak mungkin sanggup membayar lokasi sebesar dan sebaik itu.

Para anggota jemaat pun dengan sukarela memberikan donasi dan melakukan pemberitaan, akhirnya bola salju yang dimulai oleh sang gadis kecil ini bergulir dan dalam 5 tahun, berhasil mengumpulkan dana sebesar 250.000 dollar, suatu jumlah yang fantastik pada saat itu (pada pergantian abad, jumlah ini dapat membeli emas seberat 1 ton).

Inilah hasil nyata cinta kasih dari seorang gadis kecil yang miskin, kurang terawat dan kurang makan,namun perduli pada sesama yang menderita. Tanpa pamrih, tanpa pretensi.

Saat ini, jika anda berada di Philadelphia, lihatlah Temple Baptist Church, dengan kapasitas duduk untuk 3300 orang dan Temple University, tempat beribu ribu murid belajar. Lihat juga Good Samaritan Hospital dan sebuah bangunan special untuk Sekolah Minggu yang lengkap dengan beratus ratus (yah,beratus ratus) pengajarnya, semuanya itu untuk memastikan jangan sampai ada satu anakpun yang tidak mendapat tempat di Sekolah MInggu.

Didalam salah satu ruangan bangunan ini, tampak terlihat foto si gadis kecil, yang dengan tabungannya sebesar 57 sen, namun dikumpulkan berdasarkan rasa cinta kasih sesama yang telah membuat sejarah. Tampak pula berjajar rapih foto sang pastur yang baik hati yang telah mengulurkan tangan kepada si gadis keci miskin itu, yaitu pastor DR.Russel H.Conwell penulis buku "Acres of Diamonds" - a true story.

Saturday, June 23, 2007

Sulitnya Menjadi Berkat

sabtu 2 minggu yang lalu,....yayang dan bebek mandiin si merah.

saat sibuk ngelap-ngelap, dalam hati bebek sibuk menanamkan dalam hati, pesan yang pernah yayang sampaikan waktu kita mbeli si merah ini :
"inget ya non,....mobil ini harus menjadi berkat buat orang lain..."

Waktu itu yang kepikiran di benak bebek : hm,....hari senin kita mo berangkat liburan ke mersing untuk seminggu,...mobil ini harus jadi berkat bwat orang lain,...
pinjemin dia ke xxxx ah,...tapi apa dia udah punya sim sg??"

hari minggu na,...kita berangkat ke gereja berdua,...(pan si minah udah berani ke gereja sendiri,...dan dia prefer ikut kebaktian pertama)
seperti biasa,...kita parkir di hdb seberang gereja....tnyata truk di sebelah spionna keluar banget,...sampe nyerempet si merah.
kesel banget rasana,...hati jadi gak damai,...mo marah-marah ajah.....
di gereja,....denger khotbah,...damai kembali datang....bebek merasa ditegur,....:
"kamu mau mobil itu menjadi berkat untuk orang lain,...sekarang kamu sendiri yang membuat mobil tersebut lecet, kamu langsung kesal dan marah. apa kamu siap meminjamkan mobil tersebut untuk orang lain yang memerlukan???"
dooooh,... langsung bebek teringat akan komitmen yang telah yayang dan bebek putuskan,....hati rasanya langsung damai,....
itu toh cuma sebuah benda,....
berkat Tuhan,....yang harus juga menjadi berkat bwat orang lain,...
so what gitu loh???

Tuesday, June 12, 2007

"Sebuah Pilihan"

Berusaha untuk menjadi “baik” memang tidak mudah, butuh “pengorbanan” dan “ketabahan” yang besar. Banyak hal dalam kehidupan sehari-hari dapat dijadikan “pelajaran” yang berguna dalam “melatih” kita untuk “mengontrol” atau “menyalurkan” emosi yang buruk menjadi sesuatu yang berguna. Pengendalian diri adalah kunci utama untuk mencapai “damai” dalam hidup, kata-kata ini sudah sering kita dengar. Mudah “mengatakannya” sulit untuk “melakukannya”, alas an seperti ini juga sudah sering kita dengar untuk “menutupi” kesalahan. Kebanyakan orang juga bilang, kita cuma manusia yang “lemah” mudah jatuh dalam “dosa” dan masih banyak lagi “alasan” yang diberikan untuk mengurangi “volume” atau “kuantitas” kesalahan yang telah diperbuat.

Kita punya “pilihan”, masalah jalan mana yang akan kita “pilih” dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang paling utama adalah “Keluarga”, “Lingkungan” dan “Diri kita sendiri”. Tetapi dari kesemuanya itu kita tetap diberikan “kesempatan” untuk “memilih” hidup seperti apa yang mau kita jalani. Berbuat “salah” memang “wajar” tetapi kalau “kewajaran” itu dijadikan “tameng” untuk dapat melakukan kesalahan yang berikutnya juga tidak benar. Jadi hati-hati lah dalam memilih………………….

Sunday, March 25, 2007

"Potret"

Hidup susah tak membuat Rizka Amalia, murid kelas 5 SDN 05 Kenari, Jakarta Pusat, ini jadi malu atau patah semangat. Sebaliknya, dia terus berjuang menghabiskan paruh waktunya demi keluarga dengan berjualan koran. Itu dia lakukan selepas pulang sekolah sampai kembali ke rumah kontrakannya sebesar Rp 250.000/bulan di Citayam, Depok. Rizka tinggal di Citayam bersama ibu dan tiga kakaknya, yakni Idris (25), Dedy (23), dan Rifki, pelajar kelas dua SMA, setelah rumah mereka di Kwitang, Jakpus, terbakar tahun 2000.

Kehidupan keras itu dilakoni Riska setelah ayahnya meninggal dunia tiga tahun lalu. Kala itu, putri bungsu almarhum Husin dan Ny Rustidjah ini berjanji dalam hati kecilnya, "Ma...aku mau cari uang, buat bantu Mama". Miris memang, tapi apa mau dikata, Rizka melakukan itu demi cita-citanya menjadi seorang dokter. Sejak bergelut sebagai loper koran, Siska, sapaan Rizka Amalia, tidak pernah lagi punya waktu bermain seperti anak-anak sebayanya. Waktunya habis buat sekolah dan mencari uang. "Dia (maksudnya Rizka-Red) pernah saya larang tapi dia tetap nekat berjualan koran," ucap Rustidjah yang ditemui Sabtu (24/3) siang.

Setiap hari menjelang subuh, Rizka sudah bangkit dari tempat tidur. Usai Shalat Subuh, Rizka mandi, sarapan, dan siap berangkat ke sekolah. Menjelang pukul 04.30, dari rumah kontrakannya di Kampung Kelapa, RT 05/06 Citayam, Depok, Rizka diantar ibunya naik angkot ke Stasiun KA Citayam. Lalu, ibu dan anaknya ini turun di Stasiun KA Gondangdia kemudian naik ojek menuju ke SDN Kenari 05 Jalan Kramat IV, Jakarta Pusat. Selama anaknya belajar, Rustidjah menunggu di luar gedung. Pulang sekolah, mereka langsung menuju perempatan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat. Mau apa di situ? Kedatangan Rizka bersama ibunya ke Tugu Tani bukan mau jalan-jalan atau rekreasi. Tapi, di situ Rizka mulai berganti jati diri dari seorang pelajar menjadi penjual koran. Dengan mengenakan topi, baju sweater, dan masih mengenakan seragam sekolah, Rizka menemui seorang loper untuk menerima pasokan koran.

"Kebetulan kakak Rizka yang nomor tiga namanya Rifki juga jualan koran di Tugu Tani ini. Nah, begitu Rifki datang, Rizka saya tinggal pulang ke Citayam. Sebenarnya saya tidak tega membiarkan anak saya berjualan koran. Cuma mau bagaimana lagi, dia yang mau begitu," ujar Rustidjah. Biaya transport dan makan sehari sekitar Rp 25.000. Rinciannya, naik ojek dari rumah ke Stasiun KA Citayam Rp 4.000, lalu naik kereta Rp 2.000. Ojek dari Gondangdia ke sekolah Rp 4.000. Pulang pergi (pp) berarti Rp 20.000, ditambah uang makan sehingga total Rp 25.000.

Sebait lirik lagu Iwan Fals berjudul Tugu Pancoran yang berbunyi, anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, demi satu impian yang kerap ganggu tidurnya, tepat sekali dengan pengalaman hidup Rizka. Sebagai penjual koran dia harus merasakan panas terik dan guyuran hujan. Meski demikian Rizka mampu bertahan. Setiap hari dari hasil menjual koran, Rizka yang gemar berenang ini mampu mendapatkan penghasilan bersih Rp 15.000. Uang itu dia simpan di tasnya. Selepas maghrib, dia bersama kakaknya bergegas ke Stasiun KA Gondangdia untuk pulang kembali ke Citayam. Sampai di rumah biasanya pukul sembilan malam.

Tugas-tugas sekolah yang diberikan guru dikerjakan Rizka di gerbong kereta, dibantu kakaknya. Dalam kondisi lelah dan ngantuk, Rizka berjuang mati-matian supaya dia bisa memperlihatkan tugasnya kepada guru. Sesampainya di rumah Rizka langsung mandi, makan, dan tidur. Begitu seterusnya saban hari ketika tidak libur sekolah. Uang hasil jual koran dititipkan pada ibunya. "Uang itu saya simpan dan digunakan lagi buat kebutuhan Rizka sehari-hari," kata ibunya. Jika ada sisa uangnya ditabung.

Keberadaan Rizka yang selalu berjualan koran dengan memakai seragam sekolah membuat kepala sekolah uring-uringan. Begitu muncul di surat kabar, Kepala SDN 05 Kenari, sempat menegur Rizka supaya tidak memakai seragam sekolah jika berjualan koran. Murid yang masuk tiga besar di kelasnya ini menuturkan, ibu kepala sekolah telah membuat dirinya sakit hati karena merasa diintimidasi. Apalagi ia diancam akan disuruh pindah bila tetap berjualan koran dengan berseragam sekolah.

Friday, February 09, 2007

Kisah 1000 Pangsit

Sebuah keluarga China selatan, keluarga miskin dengan 7 orang anak. Mereka sering mengalami kekurangan makanan, tetapi malam sebelum “Imlek” adalah saat yang paling dinantikan oleh anak-anak. Karena ibunda selalu berupaya untuk membuat pangsit (dumpling) untuk seluruh keluarga. Keesokan harinya, Imlek, pangsit menjadi makanan yang mewah untuk keluarga tersebut. Hari ke dua, ibunda akan meminta kita untuk membagikan pangsit yang masih ada kepada para tetangga. Ibunda selalu berkata “mereka adalah orang-orang miskin yang tidak bisa makan pangsit”. Biasanya Jasmine selalu bertanya, “ibu berapa banyak pangsit yang kamu buat ? Apakah cukup untuk dibagikan ?” Ibunda selalu menjawab: “1000 pangsit”, setelah itu anak-anak pergi untuk membagikannya kepada tetangga. Ibunda selalu berupaya untuk membuat 1000 pangsit setiap tahun untuk dibagikan kepada para tetangga yang juga miskin. Pada tahun 1980, ketika harga daging makin mahal, ibunda tetap membuatnya. Tentunya daging dalam pangsit semakin sedikit, tetapi 1000 pangsit untuk para tetangga tetap dibagikan.

Ketika anak-anak beranjak dewasa dan mengadu nasib di negri orang, mereka sering menghubungi ibundanya serta bertanya “Berapa banyak pangsit yang Ibu buat tahun ini?”. Sang Ibu selalu menjawab; “1000 pangsit, anakku”

Tahun demi tahun berlalu dengan cepat. Pendengaran sang Ibu sudah berkurang, dan Jasmine, yang berkesempatan untuk bekerja sebagai perawat di Singapura tidak selalu bisa pulang pada hari raya imlek setiap tahunnya, karena itu ia belajar membuat pangsit sendiri, dan sering mengundang teman-temannya untuk menikmati pangsit buatannya. Ia selalu menyempatkan diri untuk menelepon sang Ibu. “Ibu sudah tidak bisa membuat 1000 pangsit karena sudah terlalu tua. Apakah kamu bisa makan pangsit di Singapura?”
Ketika Jasmine menjawab ‘ya Bu, saya membuat pangsit sendiri’, sang Ibu begitu lega, dan suaranya tergetar ketika menutup telepon.
Beberapa hari kemudian, Jasmine ditelepon kakaknya yang mengatakan bahwa Ibu mereka menangis begitu hebat ketika menutup telepon.
Jasmine memikirkan hal tersebut, dan tiba-tiba tersadar bahwa selama ini sang Ibu mencoba mengajarkan arti ‘hospitality’ melalui hidupnya.
Ibu telah mengajarkan arti mengasihi sesama dengan cara membagikan pangsit untuk para tetangga. Membagikan kebahagiaan, kepada orang lain yang lebih membutuhkan...

Readers Digest Februari 2007

Monday, January 29, 2007

"Sebuah Renungan"

Hidup itu penuh liku-liku, ada saatnya tertawa bahagia dan ada juga saatnya menangis penuh derita. Tetapi semuanya itu bukan tanpa makna, dan berlalu begitu saja. Tuhan punya cara yang “aneh” atau “ajaib” untuk menyampaikan sebuah “pesan” kepada kita manusia. Masalahnya bagaimana kita menerima atau menghadapi semuanya itu. Tidak ada malam tanpa siang, minum tanpa makan, wanita tanpa pria, awal tanpa akhir, dan yang paling penting yang kita harus ingat “tidak ada kegembiraan tanpa kesedihan”.

Menerima segala cobaan dengan hati yang “gembira” memang susah untuk dilakukan, tetapi menagis waktu cobaan itu datang juga tidak membuat masalah selesai. Berserah diri (pasrah) menerima apapun yang terjadi memang tidak mudah, diperlukan ketabahan dan “iman” yang kuat. Tetapi “pasrah” dan tidak berbuat apapun juga tidak benar, “Do your part, let’s God do the rest”.

Banyak “kisah nyata” tentang ketabahan anak manusia yang bisa kita baca dari surat kabar, majalah, buku-buku dan juga kita dengar dari berita di televisi juga radio dapat kita jadikan contoh. Tetapi kadang semuanya itu hanya “mudah” untuk dibaca atau didengarkan, tetapi sulit untuk dilakukan.

Tetap tabah, teruslah berusaha dan jangan pernah menyerah, dan ingat “Tuhan tidak akan menguji manusia lebih dari kemampuannya”. Berbahagialah selalu karena itu adalah “obat” yang paling mujarab, kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan dan besok adalah masa depan yang hanya Tuhan yang tahu.

Sunday, January 21, 2007

Give Thanks, Get Healthy

Bersyukur ternyata sangat baik untuk kesehatan. Riset menunjukkan bahwa orang yang senantiasa bersyukur, menghabiskan lebih banyak waktu berolah raga dan tidur lebih nyenyak daripada orang yang kurang bersyukur.
Ucapan syukur itu seperti kaca mata baru, kata Charles Shelton, seorang pendeta yang juga psikolog. Kita mampu melihat sesuatu dari beberapa perspektif. Seperti olah raga, ucapan syukur harus menjadi kebiasaan kita. Semakin sering kita berlatih,...akan semakin mudah dilakukan.
Tulislah daftar ucapan syukur, dan letakkan di sebuah wadah. Bacalah manakala kita sedang sedih,... demi kesehatan kita!

Readers Digest Januari 2006