Sunday, March 25, 2007

"Potret"

Hidup susah tak membuat Rizka Amalia, murid kelas 5 SDN 05 Kenari, Jakarta Pusat, ini jadi malu atau patah semangat. Sebaliknya, dia terus berjuang menghabiskan paruh waktunya demi keluarga dengan berjualan koran. Itu dia lakukan selepas pulang sekolah sampai kembali ke rumah kontrakannya sebesar Rp 250.000/bulan di Citayam, Depok. Rizka tinggal di Citayam bersama ibu dan tiga kakaknya, yakni Idris (25), Dedy (23), dan Rifki, pelajar kelas dua SMA, setelah rumah mereka di Kwitang, Jakpus, terbakar tahun 2000.

Kehidupan keras itu dilakoni Riska setelah ayahnya meninggal dunia tiga tahun lalu. Kala itu, putri bungsu almarhum Husin dan Ny Rustidjah ini berjanji dalam hati kecilnya, "Ma...aku mau cari uang, buat bantu Mama". Miris memang, tapi apa mau dikata, Rizka melakukan itu demi cita-citanya menjadi seorang dokter. Sejak bergelut sebagai loper koran, Siska, sapaan Rizka Amalia, tidak pernah lagi punya waktu bermain seperti anak-anak sebayanya. Waktunya habis buat sekolah dan mencari uang. "Dia (maksudnya Rizka-Red) pernah saya larang tapi dia tetap nekat berjualan koran," ucap Rustidjah yang ditemui Sabtu (24/3) siang.

Setiap hari menjelang subuh, Rizka sudah bangkit dari tempat tidur. Usai Shalat Subuh, Rizka mandi, sarapan, dan siap berangkat ke sekolah. Menjelang pukul 04.30, dari rumah kontrakannya di Kampung Kelapa, RT 05/06 Citayam, Depok, Rizka diantar ibunya naik angkot ke Stasiun KA Citayam. Lalu, ibu dan anaknya ini turun di Stasiun KA Gondangdia kemudian naik ojek menuju ke SDN Kenari 05 Jalan Kramat IV, Jakarta Pusat. Selama anaknya belajar, Rustidjah menunggu di luar gedung. Pulang sekolah, mereka langsung menuju perempatan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat. Mau apa di situ? Kedatangan Rizka bersama ibunya ke Tugu Tani bukan mau jalan-jalan atau rekreasi. Tapi, di situ Rizka mulai berganti jati diri dari seorang pelajar menjadi penjual koran. Dengan mengenakan topi, baju sweater, dan masih mengenakan seragam sekolah, Rizka menemui seorang loper untuk menerima pasokan koran.

"Kebetulan kakak Rizka yang nomor tiga namanya Rifki juga jualan koran di Tugu Tani ini. Nah, begitu Rifki datang, Rizka saya tinggal pulang ke Citayam. Sebenarnya saya tidak tega membiarkan anak saya berjualan koran. Cuma mau bagaimana lagi, dia yang mau begitu," ujar Rustidjah. Biaya transport dan makan sehari sekitar Rp 25.000. Rinciannya, naik ojek dari rumah ke Stasiun KA Citayam Rp 4.000, lalu naik kereta Rp 2.000. Ojek dari Gondangdia ke sekolah Rp 4.000. Pulang pergi (pp) berarti Rp 20.000, ditambah uang makan sehingga total Rp 25.000.

Sebait lirik lagu Iwan Fals berjudul Tugu Pancoran yang berbunyi, anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, demi satu impian yang kerap ganggu tidurnya, tepat sekali dengan pengalaman hidup Rizka. Sebagai penjual koran dia harus merasakan panas terik dan guyuran hujan. Meski demikian Rizka mampu bertahan. Setiap hari dari hasil menjual koran, Rizka yang gemar berenang ini mampu mendapatkan penghasilan bersih Rp 15.000. Uang itu dia simpan di tasnya. Selepas maghrib, dia bersama kakaknya bergegas ke Stasiun KA Gondangdia untuk pulang kembali ke Citayam. Sampai di rumah biasanya pukul sembilan malam.

Tugas-tugas sekolah yang diberikan guru dikerjakan Rizka di gerbong kereta, dibantu kakaknya. Dalam kondisi lelah dan ngantuk, Rizka berjuang mati-matian supaya dia bisa memperlihatkan tugasnya kepada guru. Sesampainya di rumah Rizka langsung mandi, makan, dan tidur. Begitu seterusnya saban hari ketika tidak libur sekolah. Uang hasil jual koran dititipkan pada ibunya. "Uang itu saya simpan dan digunakan lagi buat kebutuhan Rizka sehari-hari," kata ibunya. Jika ada sisa uangnya ditabung.

Keberadaan Rizka yang selalu berjualan koran dengan memakai seragam sekolah membuat kepala sekolah uring-uringan. Begitu muncul di surat kabar, Kepala SDN 05 Kenari, sempat menegur Rizka supaya tidak memakai seragam sekolah jika berjualan koran. Murid yang masuk tiga besar di kelasnya ini menuturkan, ibu kepala sekolah telah membuat dirinya sakit hati karena merasa diintimidasi. Apalagi ia diancam akan disuruh pindah bila tetap berjualan koran dengan berseragam sekolah.

No comments:

Post a Comment